Apologize

Tuesday, March 27, 2012

Hujan sangat deras. Membasahi seluruh halaman rumah. Memberikan aroma khas saat bersentuhan dengan tanah. Aku ambil nafas dalam-dalam menghirup aroma yang ditimbulkannya. Kilatan kilat memancarkan sinar lalu di ikuti oleh guntur. Suara Guntur begitu keras membuat lamunanku terpecah. Aku duduk di teras memandangi hujan yang turun . Sendirian tanpa ada seorang pun yang menemani. Mengingat betapa tragisnya kisah hidupku. Menerima kenyataan yang tak bisa diterima. Melihat sesuatu yang tak ingin dilihat. Merasakan sakit yang tak ingin dirasakan. Penghianatan yang kamu lakukan bekedok cinta kepadaku. Saat pertama melihatmu. Kamu tidak terlihat seperti ini. Kamu lebih dari seorang wanita biasa. kamu selalu diliputi aura yang bisa membuat orang-orang kagum saat melihatmu. Aku adalah salah satu dari mereka. Seorang yang mempunyai rasa kepadamu. Seseorang yang ingin mendapatkan cintamu. Sifat acuhmu saat bertemu selalu menjadi beban pikiranku. Membuat aku menjadi semakin tertarik medan magnetmu. Selalu memikirkan cara untuk mencari pokok bahasan agar kamu tidak diam. Suaramu begitu merdu. Dulu bisa membuat aku selalu ingin mendengarkan suaramu. Sekarang tidak lagi. Suaramu yang dulu aku kagumi sekarang berubah menjadi suara sumbang, tak enak di dengar dan membuat aku muak. Wajahmu putih bersih ditambah dengan lesung pipi menjadikanmu wanita dengan paras wajah cantik dan manis. Setiap lelaki pasti tergila-gila memandangnya, begitu pula dengan diriku. Tetapi sekarang telah berubah, wajah cantikmu hanya topeng untuk menutupi kebohongan yang kamu lakukan. Menyembunyikan kenyataan yang harus aku ketahui dari awal bertemu denganmu. Rambutmu lurus sebahu dengan warna hitam lekat terurai dengan rapi. Ingin aku membelainya dan mencium aromanya. sekarang hanya tinggal impian belaka. Sesekali aku tertawa membayangkan diriku yang dulu. Seorang yang tergila-gila dengan cinta semu. Seorang yang begitu bodohnya mempercayai semua yang dia katakan. Semua kebohongan yang kamu berikan aku percayai tetapi semua kebenaran aku salahkan. Aku lebih memilih mempercayaimu karena aku berfikir kamu yang terbaik. Ternyata salah, kamu yang terburuk dengan kebohongan terbaik. Sifat bohongmu bisa mengecoh orang lain dengan mimik genik saat mengatakan sepatah dua patah kata ditambah dengan elok tubuhmu.
Teman-teman dekatku selalu mengatakan kebenaran yang sebenarnya tetapi aku acuhkan. Kata-katamu yang selalu aku percanya. Setiap ada orang lain melecehkanmu aku selalu membelamu. Tidak akan aku biarkan mereka menjatuhkanmu didepanku. Tak peduli apa kata orang, aku selalu mendengarkan kata-katamu. Pada sat itu aku memang telah terbius cinta semu. Mencintai seorang yang tak selayaknya aku cintai. Mereka tak henti-hentinya memberi tahu. Mengatakan kenyataan tentangmu. Sekarang hanya penyesalan yang hadir. Ingin aku meminta maaf kepada mereka. Setiap orang yang mengatakan kebenaran tetapi aku menganggapnya kebohongan. Harusnya aku tahu mereka benar. Mereka adalah para sahabat dekatku. Mana mungkin seorang sahabat tega membohongi sahabatnya sendiri?. Kebodohanku telah menghancurkanku. Rasa bersalah selalu membayang-bayangi perjalanan ini. Aku sulut sebatang rokok untuk mengalihkan rasa dingin yang aku rasa. Aku mulai menghayal lagi. Apa yang harus aku katakan kepada mereka setelah tahu mereka benar?. Aku tak terbiasa meminta maaf kepada orang lain. Sejak mengetahui kenyataan yang sebenarnya aku tak pernah menemui mereka. Sudah lebih dari satu minggu aku menyendiri . mengasingkan diri untuk menyembunyikan rasa malu. Semua orang pasti akan menertawakanku. Sifat bodohku ini selah membutakan aku. Setiap ada pesan masuk aku baca pesan tersebut tetapi tidak ada satupun pesan yang aku balas. Setiap mereka menelpon tidak pernah aku angkat. Aku juga tidak pernah menelpon balik mareka. Benar-benar menyedihkan bila mengingat ini. Harga diri yang aku jaga sekarang dipertaruhkan dengan ejekan mereka. Menertawakan semua kenyataan yang aku rasakan. Terkadang terlintas pikiran untuk menemui mereka dan meminta maaf karena telah menuduh mereka sebagai membohong. Tetapi semua sirna saat aku membayangkan apa yang akan mereka katakana nanti. Mereka pasti akan tertawa terbahak-bahak mendengarkannya. Benar-benar memalukan bila aku bayangkan seorang yang bernama Sandy harus meminta maaf. Memikirkan itu membuat aku ingin menyulut rokok lagi. Aku mengambil sebatang rokok lagi dan menyulutnya. Tidak henti-hentinya aku menertawai diriku sendiri. Mungkin bila ada seorang yang melihatku mereka akan geleng-geleng kepala dan mengatakan kalau aku stress. Mungkin memang benar aku telah stress mengatahui kenyataan ini. Kalau dibandingkan dengan orang gila atau tak beda jauh dengan mereka. Bedanya mereka ada dirumah sakit jiwa sedangkan aku dirumah dan bisa menikmati rokok yang aku sulut. Ingin aku mengungkapkan kemarahanku tetapi aku tak tahu harus melampiaskan dengan apa dan dengan siapa?. Jalan terbaik yang aku pikirkan adalah ingin hilang ingatan agar bayang-bayangmu dan semua kesalahan yang aku lakukan ikut menghilang. Tetapi aku tidak tahu caranya. Apakah aku harus membenturkan kapalaku ke tembok atau memukul kepalaku sendiri dengan benda keras agar keluar darah dan hilang ingatan?. Aku rasa tidak segampang itu melakukan hal ini. Aku terlalu takut untuk melakukannya. Minuman keras yang aku minum hanya bisa melupakanmu sejenak. Aku beranjak dari tempat duduk. Aku masuk kedalam rumah. Aku langsung menuju kamarku. Aku ambil kunci motorku. aku keluar dari kamar dan mencari mbok imah. “mbok nanti kalau mama atau papa tanya bilang aku lagi jalan-jalan” “baik den” Aku menuju bagasi. Aku tunggangi sepeda motorku. hujan masih sangat lebat tetapi tak membuatku merupah pendirianku. Aku nyalakan sepeda motorku. aku tabrak setiap tetes air hujan yang turun dari langit. Baju dan celana yang aku kenakan sudah basah kuyup diguyur hujan. Aku rasakan perih setiap tetes hujan menghantam tanganku. Rasa perih yang ditimbulkan tiap tetes air hujan tak lagi bearti saat aku mengingat rasa perih hatiku. karena hujan lebat jalannan menjadi banjir. Aku terjang banjir tersebut. Aku tak memperdulikan orang-orang disekitarku yang terkena cipratan air dari sepeda motorku. aku terus melaju menuju tempat tujuanku. Tak sampai setengah jam aku sampai tempat tujuanku. Aku berhenti didepan rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas. Disini adalah tempat ku bersama para sahabatku berkumpul menghabiskan waktu dan bermain musik. Di dalam halaman aku melihat mobil hitam diparkir dengan rapi dan sebelahnya ada dua sepeda motor yaitu milik Sam dan milik Dani. Aku buka pintu pagar dan aku parkirkan sepeda motorku dibelakang sepeda motor Dani. Aku melangkahkan kaki menuju pintu rumah. Sampai didepan pintu aku menjadi bimbang untuk melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah. Aku berfikir cukup lama antara masuk kedalam rumah dan bertemu dengan mereka untuk meminta maaf atau kembali pulang kerumah. Aku pegang gagang pintu. Aku buka pintu tersebut. Aku masuk kedalam rumah tetapi tidak menemukan seorang pun. Aku melangkahkan kaki menuju kamar tidur. Aku tak menemukan seorang pun. aku mengambil baju ganti didalam almari karena baju yang aku kenakan basah kuyup diguyur hujan. Selesai ganti baju aku melanjutkan melangkahkan kaki menuju dapur. Disana juga tidak ada seorang pun. aku buka almari pedingin. Aku temukan cemilan. “pas banget ada cemilan, lumayan perutku belum aku isi makanan dari tadi pagi.” Ucapku dalam hati. Aku melanjutkan langkah kakiku menuju ruang band. Disana tetap tidak aku temukan seorang pun. aku melangkahkan kaki menuju lantai dua. Disana aku menemukan mereka sedang asik menikmati kafein dalam kopi dengan ditemani nikotin dalam rokok. Mereka tampak bercanda seperti biasa. Terlihat tidak ada beban pikiran dalam ketawa mereka. Mereka menghadap jendela menatap hujan yang turun. Kakiku terasa berat untuk melangkahkan kaki kesana. Mulutku terasa bisu untuk mengatakan sepatah dua patah kata. Aku tersenyum melihat mereka bercanda gurau. Mentalku telah jatuh. Aku tidak berani bertemu dengan mereka. Aku melangkahkan kakiku turun kebawah dan pulang kerumah. “woy…..Mau kemana?” Langkahku berhenti saat aku mendengar suara Sam. Aku tak berani menoleh kepadanya. “sini dulu minum kopi!” “kasihan Dani udah buatin kopi buat kamu ni.” Aku membalikan wajahku. Aku melihat Sam menatapku dan memegang segelas kopi hangat. “duduk sini!” Yogi menyuruhku duduk disebelahnya. Dia menyuruhku tanpa mengalihkan pandangannya dari hujan. “pimpinan udah ngomong tu!” “kamu masih nggak mau nurut?” “pingin dipecat dari band?” Ucap dani mempertegas ucapan Yogi. Aku melangkahkan kaki kesana. Aku duduk disebelah Yogi. Sam memberikan kopi yang dia pegang tadi. Aku meminum kopi buatan Dani. Kopi buatan Dani memang tidak ada tandingannya. Rasa manis dan pahit bercampur jadi satu menjadikan rasa kopi menjadi sangat nikmat untuk dinikmati apa lagi masih hangat disaat udara dingin seperti ini. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mereka. Aku pun hanya diam mengikuti mereka. Yang terdengar hanya derasnya iar hujan membasahi bumi. Aku tak mengerti kenapa mereka memanggilku dan menyuruhku duduk setelah itu mendiamkanku. Aku bingung tak mengerti apa yang terjadi saat ini. Yogi menyodorkanku rokok. Tanpa ada kata-kata yang terucap darinya. Aku menyulut rokok dan menikmati kopi yang msih hangat. Mereka sangat tenang beda dengan tadi saat mereka bercanda gurau. Mereka menghadap jendela menyaksikan hujan yang turun. Dani tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Entah apa yang ingin dia lakukan. Aku ikut berdiri ingin menghampirinya tetapi tangan Yogi memgang pundakku. Gerak tubuhku langsung berhenti. Dalam hati bertanya-tanya kenapa mereka berubah menjadi pendiam. Yogi menyodorkan rokok lagi. Aku tidak berniat merokok tetapi dia menyodorkannya terus. Aku ambil rokok tersebut dan aku sulut. Perasaan menjadi tidak tenang memikirkan apa yang mereka lakukan. Apakah begini cara mereka saat marah kepada orang lain?. Aku tak berani mengucapkan sepatah kata pun. begitu pun juga dengan mereka hanya diam saja. Jam di dinding telah menunjukan pukul tujuh. Kalau dihitung-hitung sudah dua jam kami sudah duduk terdiam. Tak lama kemudian Dani naik keatas lagi. Yogi dan Sam melihat Dani yang berada di tangga. Tanpa disuruh mereka langsung turun kebawah. Aku benar-benar bingung apa yang terjadi. Mereka berjalan menuju tangga sedangkan aku masih duduk dikursi sambil menoleh kepada mereka. Yogi dan Sam menatapku lalu tanpa disuruh aku langsung ikut berjalan dibelakan mereka. Aku melihat mereka menuju meja makan. Mereka langsung duduk mengitari meja makan. Aku mengikuti apa yang mereka lakukan. Setelah semua duduk Sam memimpin doa. “terima kasih Tuhan atas semua riski dan kerunia di hari ini.” “amin.” Setelah doa mereka langsung melahap makan malam yang telah dimasak Dani. Aku hanya terpaku melihat mereka. Dani menyodorkan nasi dan lauk-pauk. Aku tetap diam tak mengerti apa yang mereka lakukan. Yogi sepertinya marah atas apa yang aku lakukan. Di mengambil piring yang ada didepanku langsung mengambilkan aku nasi cukup banyak dan juga lauk. Yogi mengambilkannya terlalu banyak kalau dipikir ini seperti porsi kuli bangunan. Mereka telah selesai makan malam. Aku masih sibuk dengan makan malamku karena masih banyak. Aku merasa sudah kenyang. Aku tidak meneruskan makan malamku. Tiba-tiba Yogi menoleh kepadaku dan berkata. “habiskan.” Ucapnya dengan nada datar. “aku dah kenyang.” Ucapku sambil memegang perutku. “habiskan.” Yogi mengucapkan kata yang sama dengan nada yang sama. Aku pegang cendok dan garpu lagi. Aku meneruskan memakan makan malamku padahal perutku sudah kenyang. Perutku terasa tak muat lagi menampung makanan tetapi aku paksakan memakannya. selesai aku makan Dani mengambil sabun cuci dan menaruhnya di atas piringku. Aku menatap Dani lalu dia menunjuk ketempat cuci piring. Aku langsung mengerti maksud Dani. Tanpa disuruh lagi aku langsung membersihkan meja makan dan mencuci mencuci piring. Mereka beranjak dari tempat duduk dan menuju ruang tamu. Tampak mereka sangat menikmati rokok yang mereka sulut sedangkan aku sibuk dengan cuci piring. Setelah selesai mencuci piring Sam memanggilku. Menyuruhku bergabung dengan mereka. Aku langsung duduk dan ikut menyulut rokok yang disediakan di atas meja. Saat kami duduk santai di ruang tamu. Aku ungkapkan rasa yang dari tadi terus menghantuiku. Rasa bersalah kepada mereka, sahabatku sendiri. Aku yang tidak pernah mempercayai kata-kata mereka. Menolak mentah-mentah apa yang mereka katakan kepadaku. meluapkan emosi saat mereka melecehkan orang yang pernah aku sayangi dan aku cintai. Kata-kata pedes mereka kepadaku yang telah menganggap aku hanya orang yang bodoh tak tahu apa-apa dan selalu ingin bena sendiri telah menjatuhkan aku dalam kesalahan. Aku memang keras kepala. Semua yang aku pikir benar selalu aku bela tanpa memikirkan itu benar apa salah Aku persiapkan mentalku untuk mengatakan kepada mereka. Permintaan maafku kepada mereka. “aku ingin minta maaf kepada kalian.” Aku mengakatan penyesalanku dengan kepala merunduk. “apa?” “aku nggak dengar.” Ucap Yogi Aku mengangkat kepalaku. Aku ambil nafas dalam-dalam. Aku teriakan kata-kata maafku dengan dibarengi suara Guntur yang begitu keras menemani kata-kataku yang beruncap dari mulutku. Aku berhasil mengalihkan perhatian mereka. Mereka langsung menatapku dan mereka terdiam sejenak. Aku ucapkan permintaan maafku lagi dengan berteriak-teriak. Aku teriakan permintaan maafku terus menerus. Aku ulang kata-kata yang sama berkali-kali sampai aku akhirnya terdiam karena lelah menguncapkan maaf. Mereka masih menatapku. Mereka tertawa. Mereka tertawa melihat aku. Mereka seperti mengejekku. Air mata mereka keluar menertawakanku. aku kembali terdiam dan menundukan kepalaku. Mereka masih saja tertawa terbahak-bahak. Aku beranjak dari tempat dudukku. Aku bersalan menuju pintu keluar. Saat aku pegang gagang pintu Yogi memanggilku. “mau kemana?” “sini dulu bodoh” Aku menuruti saja kata-kata Yogi. aku duduk lagi dikursi tempat aku duduk tadi. Aku masih diam melihat mereka tertawa. “aku nggak nyangka kamu bakalan minta maaf.” Ucap Yogi. “bener banget, aku tak habis pikir seorang Sandy, orang yang keras kepala, tidak bisa diatur dan kaku bisa minta maaf dengan begitu memalukannya.” Timpa Sam “kepalanya lagi panas mungkin, coba ja dicocokin temperature kepalanya ma bokongku.” Tambah Dani ikut mengejek. “ha….ha…..ha…….” Mereka tertawa kembali. Tawa mereka tambah menjadi-jadi. Mereka tertawa memegang perut mereka. Mungkin perut mereka sakit karena tertawa terbahak-bahak. Aku mengangkat kepalaku. Aku lihat mereka tertawa. Aku lepaskan senyum yang selama ini hilang saat aku melihat kenyaataan yang membuat aku seperti ini. “yang suruh kamu senyum sapa?” “kamu pikir kami udah maafin kamu?” ucap Sam. Aku kembali diam dan menundukan kepalaku. Sepertinya mereka masih marah dengan sikapku yang lalu. Aku bernar-benar tak mengerti dengan sikap yang mereka tunjukan Akhirnya mereka selesai tertawa. Aku mengangkat kepalaku lagi. Ku melihat mereka menyulut rokok lagi. Aku ikut menyulut rokok. Kami merasakan nikotin dalam sebatang rokok. Terkadang mereka tertawa sebentar mengingat yang tadi aku lakukan. Kami habiskan batang demi batang rokok. Setelah rokok kami habis Yogi beranjak dari tempat duduknya disusul Dani dan Sam. Aku masih duduk melihat mereka. “kamu mau duduk terus?” Tanya Dani. Aku beranjak dari tempat dudukku. mereka manatapku tanpa senyum. Memperlihatkan ekspresi biasa-biasa saja. “kamu masih anggota band-kan?” Tanya Yogi. Aku menatap Yogi dan menganggukan kepala sekali. Meraka saling tatap saat mereka melihat aku mengangguk dan mereka menganggukan kepala mereka. “ayo latihan waktunya udah mepet.” Perintah Yogi. “kalian masih mau nerima aku?” ucapku tak percaya dengan kata-kata Yogi. “ya udah kalo nggak mau, kami latihan sendiri.” “kalian udah maafin aku?” “kalau belum untuk apa kami mengajakmu?” Senyumku langsung mengembang. Rasa bahagia terasa memenuhi tubuh ini. Aku masih dibutuhkan dalam band dan mereka masih menganggap aku sebagai sahabat mereka. Aku telah mengecewakan mereka tetapi mereka mau memaafkanku. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang mereka lakukan. Aku memeluk mereka. Mereka tertawa kembali. Tetepi tawa mereka tidak seperti yang tadi. Tawa yang penuh dengan ejekan dan cemooh. Tawa yang ini benar-benar enak didengar. Kami bertawa bersama-sama. “setelah ini jangan buat masalah lagi, kamu bisa benar-banar kami keluarkan dari band kalo kamu nggak konsekuen lagi sama jadwal yang telah kita buat bersama-sama.” Ucap Yogi tegas. “siap…….” Aku menguncapkan kata seperti seoarang prajurit yang menerima perintah dari komandan. Mereka tersenyum melihatku. Kehenian kami langsung pecah saat mereka tiap lagi mendiamkanku. Malam ini rasa dingin tak lagi terasa karena setiap tawa canda kami mengahangatkan tubuh kami. Tiba-tiba aku mulai tersadar. Kenapa mereka ada disini?. Padahal aku tak bilang kepada mereka. Rasa curigaku menimbulkan pikiran-pikiran jelek tentang mereka. Ingin aku tanyakan pertanyaan yang timbul memenuhi kepalaku. “kenapa kalian ada disini?” “kami disini nunggu kamu datang untuk minum kopi.” Ucap Sam. “kenapa kalian bisa tahu kalo aku bakalan datang?” “harusnya kamu tahu, kita kan selalu disini menikmati hujan dengan ditemani secangkir kopi panas dan rokok sebagai penghangat.” Ucap Yogi. “gimana kalau aku nggak datang?” “ya nggak masalah, hari-hari kemarin juga gitu.” Ucap Dani. Aku terdiam mendengarnya. Aku terkejut dengan jawaban mereka.mereka sangat setia kawan,.mau menungguku datang, masih mau menerimaku kembali dan tidak mau menggantikan posisiku di dalam band. “ayo latihan nggak usah ngulur waktu lagi!. Waktu kita kurang udah mepet.” Ucap Yogi memberi komando. Kami latihan dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi perlombaan band yang diadakan di PRPP Semarang. Tawa canda kami berubah menjadi serius saat kami mulai memegang alat musik. Semangat kami untuk bisa memenangkan perlombaan terus bergejolak. Harapan kami memenangkan juara I dan dikontrak label terkenal.



March 27, 2012

0 comments:

Post a Comment