Depresi

Tuesday, March 20, 2012

by : Putu Saddam

Pergaulan bebas telah merubah sifat dasarnya. Sebenarnya ia adalah wanita yang baik. Sifat dasarnya yang begitu baik, penurut dan selalu menghargai orang tuanya telah terganti dengan sifat buruk karena pengaruh teman-temannya. Sekarang ia menjadi gampang terpancing emosi dan tidak lagi menuruti kata-kata orang tuanya. Ia hanya mendengar kata hatinya. Kata hatinya yang selalu ingin melakukan hal yang salah dan menyimpang dari kebenaran. 
Ia selalu pulang malam dengan keadaan mabuk. Bau alkohol keluar dari mulutnya. membuat orang tuanya menjadi marah. Tetapi itu tidak merubahnya menjadi baik malah membuat kenakalannya menjadi-jadi. Ia menjadi jarang pulang kerumah, entah menginap dimana orang tuanya pun tak mengetahuinya.  

Ia tak lagi menghormati orang tuanya. Ia bahkan membentak-bentak ibunya. Orang yang telah melahirkannya karena kesalahan sepele. Rasa hormat kepada orang tuanya pun tak lagi terasa. Ia memnta uang dengan nada tinggi dan mencela ayah kandungnya dengan kata "miskin" hanya karena tidak diberi uang.
Pengeluarannya tiap bulan tak bisa dinalar lagi. Ia menghabiskan uang orang tuanya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya dan kekasihnya. Kebutuhan belanjanya sangat tinggi. Minimal seminggu sekali ia belanja bersama temannya. Setiap malam selalu berada di club malam. Minum-minuman keras sudah menjadi hal yang biasa. menghisap nikotin dalam sebatang rokok sudah menjadi kebiasaannya setiap hari. Bahkan ia tunjukan di depan orang tuanya.
Di pagi yang cerah. Ia duduk diteras rumah dengan pakaian yang begitu menantang setiap mata untuk selalu melihat lekuk tubuhnya. Ia menyulut rokok dan menikmatinya tanpa memperpedulikan setiap orang yang lewat didepan rumahnya. Ibunya mencoba memberi pengertian tetapi ia malah marah-marah dan membentak ibunya. Air mata ibu langsung menetes saat melihat anak yang begitu dibanggakannya memarahi dan membentaknya. Ibunya langsung masuk kedalam rumah dengan air mata yang berlinang. Ia tak memperpedulikan ibunya yang telah menangis. Tak ada rasa bersalah diperlihatkannya.   
Orang tuanya hanya bisa diam dan sabar menghadapi tingkah anaknya. Segala macam cara telah dilakukan tetapi tetap tak berhasil. Ibunya selalu menangis tiap malam karena tidak dapat mendidik anak semata wayangnya.   
Bima adalah orang yang dicintainya. Bima juga yang telah menghamilinya. Menumbuhkan benih cinta didalam perutnya lalu pergi meninggalkannya tanda ada kata perpisahan. Bima mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan kerumahmu. 
Waktu itu hujan lebat ia memaksa Bima datang kerumahnya karena ia sangat kaget mengetahui kalau ia sedang mengandung anaknya. Bima mengendarai sepeda motornya dengan keepatan tinggi menerobos derasnya hujan. Saat tikungan tajam sepeda motor yang dikendarainya oleng karena jalanan licin. Didepan ada truk sedang melaju kencang dan tabrakan pun tak terelakan lagi. Bima seketika mati ditempat kejadian.
Keesokan harinya teman dekat Bima memberi tahu kalau Bima telah meninggal dunia. Ia sangat kaget mendengar berita dari teman dekat Bima. Jiwanya langsung terguncang dan mulai menyalahkan dirinya sendiri. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Ia mulai mengurung diri didalam kamar. Tidak membiarkan orang lain masuk kedalam kamarnya termasuk orang tuanya.
Kesehatannya mulai menurun dratis. Kesehatan janinnya pun ikut menurun dan akhirnya ia pun mengalami keguguran. Rasa bersalah dalam hatinya bertambah besar karena tidak bisa menjaga benih cinta yang ditanamkan Bima didalam perutnya. Ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia merasa tidak pantas lagi hidup.  Ia mulai mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri tetapi selalu digagalkan orang tuanya.
Ia mengambut pagi dengan malas. Merasakan hangatnya pagi ini pun ia tak mau. Menggerakan badan untuk mengeluarkan keringat dalam tubuh tak pernah ia lakukan. Ia tak pernah mau mendengar kata orang. Setiap perkataan baik ia muntahkan, tetapi setiap perkataan jelek ia cerna. Setiap ada orang mengatainya dengan kata-kata kasar ia langsung marah. Ia lampiaskan setiap amarahnya dengan memaki-maki orang dan melempar benda apapun yang ada didekatnya.  
Setiap ia mengingat orang yang ia cintai ia langsung menangis. Tangisan yang begitu memilukan selalu terdengar setiap malam. Suara tangisannya sampai terdengar keluar rumah. Orang sekampung merasa iba saat mendengar tangisannya. Kehilangan yang tak bisa ia terima selama ini telah membuatnya menjadi seperti ini. Ia selalu mencoba menyakiti dirinya sendiri saat menangis. Air mata yang ia tumpahkan membuat kedua matanya menjadi lebam. Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan tangisannya. Hanya dirinya sendiri yang bisa menghentikannya. Orang tuanya selalu ikut menangis saat ia menangis dan menyakiti dirinya sendiri. Segala macam cara ia lakukan untuk menyakiti dirinya sendiri seperti membenturkan kepala ke tembok, menggoreskan pecahan kaca di tangan, menjambak rambutnya yang panjang sepunggung dan masih banyak lagi cara yang ia lakukan. Terkadang orang tuanya sampai mengikat tangan dan kakimu di ranjang agar ia tidak menyiksa dirinya sendiri.
Saat ia duduk sendiri diatas ranjangnya yang empuk ia selalu berbicara sendiri. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orang yang ia cintai. Kata maaf terkadang terucap dari mulutnya. rasa penyesalan ini telah merubah sifatnya yang periang menjadi pendiam. Ia tidak suka bila ada orang yang masuk kedalam kamarnya. Ia langsung marah dan memaki-maki orang yang masuk kedalam kamarnya. Hanya orang tuanya yang diperbolehkan masuk kedalam kamarnya. Setiap orang tuanya masuk kedalam kamarnya ia selalu berkata ngelantur. Mengucapkan kata-kata yang sama dan setiap pertanyaan yang ia tanyakan harus dijawab dengan kata” iya”. Setiap orang tuanya mengatakan” tidak” ia akan menangis. Tentunya setiap orang tua tak ingin membuat anaknya menangis, maka setiap ia bertanya orang tuanya selalu mengiyakan. 
Orang tuanya disibukan dengan tingkah lakunya. Setiap saat dan setiap waktu orang tuanya harus mengawasi setiap gerak dan tingkah lakunya. Setiap mau makan ia harus dibujuk terlebih dahulu agar ia mau makan. Kebohongan yang orang tuanya lakukan semua untuknya, agar ia mau makan dan mau menurut kata-kata orang tuannya. Segala upaya telah dilakukan orang tuanya untuk kesembuhan anaknya. Mulai dari pengobatan melalui jalur dokter sampai jalur alternatif telah dilakukan orang tuanya. Banyak tempat pengobatan  yang telah dikunjungi bahkan sampai keluar kota, banyak uang yang telah dikeluarkan tetapi tidak bisa mengobati anaknya. 
Para kerabat pun menjadi simpati dengan keadaannya. Mereka membantu mencari jalan keluar. Mencari informasi orang yang bisa mengobati saudaranya. Mulai dari mencari dokter yang mampu mengobatinya sampai mencari orang pintar seperti dukun dan yang lainnya. Tetapi semua tidak berguna, karena semua jalan itu tidak membuatnya sembuh.
Setiap hari orang tuanya selalu berdoa untuk kesembuhannya. Setiap tetes air matanya selalu menetes tiap kali mengucapkan doa. Doa yang selalu terucap dari hati yang terdalam. Berharap agar Sang Pencipta mau memaafkan tingkah laku anaknya yang telah kelewat batas dan mengakibatkannya menjadi seperti ini. Berdoa agar anaknya sembuh dari penderitaan yang telah dideritanya saat ini.
Bertahun-tahun ia menjalani kehidupan seperti ini. Sampai akhirnya maut menjemputnya. Mungkin ini memang jalan terbaik untuk menghilangkan penderitaanya selama ini. Orang tuanya telah merelakan kepergiannya. Tetes air mata keluarga dan para kerabat dekatnya menemaninya ketempat peristirahatan terakhirnya.



March 20, 2012

1 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete