by : Putu Saddam
Pergaulan bebas telah
merubah sifat dasarnya. Sebenarnya ia adalah wanita yang baik. Sifat dasarnya
yang begitu baik, penurut dan selalu menghargai orang tuanya telah terganti
dengan sifat buruk karena pengaruh teman-temannya. Sekarang ia menjadi gampang
terpancing emosi dan tidak lagi menuruti kata-kata orang tuanya. Ia hanya
mendengar kata hatinya. Kata hatinya yang selalu ingin melakukan hal yang salah
dan menyimpang dari kebenaran.
Ia selalu pulang malam
dengan keadaan mabuk. Bau alkohol keluar dari mulutnya. membuat orang tuanya
menjadi marah. Tetapi itu tidak merubahnya menjadi baik malah membuat
kenakalannya menjadi-jadi. Ia menjadi jarang pulang kerumah, entah menginap
dimana orang tuanya pun tak mengetahuinya.
Ia tak lagi menghormati orang tuanya. Ia bahkan membentak-bentak ibunya. Orang yang telah melahirkannya karena kesalahan sepele. Rasa hormat kepada orang tuanya pun tak lagi terasa. Ia memnta uang dengan nada tinggi dan mencela ayah kandungnya dengan kata "miskin" hanya karena tidak diberi uang.
Pengeluarannya tiap
bulan tak bisa dinalar lagi. Ia menghabiskan uang orang tuanya untuk
bersenang-senang dengan teman-temannya dan kekasihnya. Kebutuhan belanjanya
sangat tinggi. Minimal seminggu sekali ia belanja bersama temannya. Setiap
malam selalu berada di club malam. Minum-minuman keras sudah menjadi hal yang
biasa. menghisap nikotin dalam sebatang rokok sudah menjadi kebiasaannya setiap
hari. Bahkan ia tunjukan di depan orang tuanya.
Di pagi yang cerah. Ia
duduk diteras rumah dengan pakaian yang begitu menantang setiap mata untuk
selalu melihat lekuk tubuhnya. Ia menyulut rokok dan menikmatinya tanpa
memperpedulikan setiap orang yang lewat didepan rumahnya. Ibunya mencoba memberi
pengertian tetapi ia malah marah-marah dan membentak ibunya. Air mata ibu
langsung menetes saat melihat anak yang begitu dibanggakannya memarahi dan
membentaknya. Ibunya langsung masuk kedalam rumah dengan air mata yang
berlinang. Ia tak memperpedulikan ibunya yang telah menangis. Tak ada rasa
bersalah diperlihatkannya.
Orang tuanya hanya bisa
diam dan sabar menghadapi tingkah anaknya. Segala macam cara telah dilakukan
tetapi tetap tak berhasil. Ibunya selalu menangis tiap malam karena tidak dapat
mendidik anak semata wayangnya.
Bima adalah orang yang
dicintainya. Bima juga yang telah menghamilinya. Menumbuhkan benih cinta
didalam perutnya lalu pergi meninggalkannya tanda ada kata perpisahan. Bima
mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan kerumahmu.
Waktu itu hujan lebat
ia memaksa Bima datang kerumahnya karena ia sangat kaget mengetahui kalau ia
sedang mengandung anaknya. Bima mengendarai sepeda motornya dengan keepatan
tinggi menerobos derasnya hujan. Saat tikungan tajam sepeda motor yang
dikendarainya oleng karena jalanan licin. Didepan ada truk sedang melaju
kencang dan tabrakan pun tak terelakan lagi. Bima seketika mati ditempat
kejadian.
Keesokan harinya teman
dekat Bima memberi tahu kalau Bima telah meninggal dunia. Ia sangat kaget
mendengar berita dari teman dekat Bima. Jiwanya langsung terguncang dan mulai
menyalahkan dirinya sendiri. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Ia mulai
mengurung diri didalam kamar. Tidak membiarkan orang lain masuk kedalam
kamarnya termasuk orang tuanya.
Kesehatannya mulai
menurun dratis. Kesehatan janinnya pun ikut menurun dan akhirnya ia pun
mengalami keguguran. Rasa bersalah dalam hatinya bertambah besar karena tidak
bisa menjaga benih cinta yang ditanamkan Bima didalam perutnya. Ia tak bisa
mengendalikan dirinya sendiri. Ia merasa tidak pantas lagi hidup. Ia mulai mencoba mengakhiri hidupnya dengan
cara bunuh diri tetapi selalu digagalkan orang tuanya.
Ia mengambut pagi
dengan malas. Merasakan hangatnya pagi ini pun ia tak mau. Menggerakan badan
untuk mengeluarkan keringat dalam tubuh tak pernah ia lakukan. Ia tak pernah
mau mendengar kata orang. Setiap perkataan baik ia muntahkan, tetapi setiap
perkataan jelek ia cerna. Setiap ada orang mengatainya dengan kata-kata kasar
ia langsung marah. Ia lampiaskan setiap amarahnya dengan memaki-maki orang dan
melempar benda apapun yang ada didekatnya.
Setiap ia mengingat
orang yang ia cintai ia langsung menangis. Tangisan yang begitu memilukan
selalu terdengar setiap malam. Suara tangisannya sampai terdengar keluar rumah.
Orang sekampung merasa iba saat mendengar tangisannya. Kehilangan yang tak bisa
ia terima selama ini telah membuatnya menjadi seperti ini. Ia selalu mencoba
menyakiti dirinya sendiri saat menangis. Air mata yang ia tumpahkan membuat
kedua matanya menjadi lebam. Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan
tangisannya. Hanya dirinya sendiri yang bisa menghentikannya. Orang tuanya
selalu ikut menangis saat ia menangis dan menyakiti dirinya sendiri. Segala
macam cara ia lakukan untuk menyakiti dirinya sendiri seperti membenturkan
kepala ke tembok, menggoreskan pecahan kaca di tangan, menjambak rambutnya yang
panjang sepunggung dan masih banyak lagi cara yang ia lakukan. Terkadang orang
tuanya sampai mengikat tangan dan kakimu di ranjang agar ia tidak menyiksa
dirinya sendiri.
Saat ia duduk sendiri
diatas ranjangnya yang empuk ia selalu berbicara sendiri. Ia selalu menyalahkan
dirinya sendiri atas kematian orang yang ia cintai. Kata maaf terkadang terucap
dari mulutnya. rasa penyesalan ini telah merubah sifatnya yang periang menjadi
pendiam. Ia tidak suka bila ada orang yang masuk kedalam kamarnya. Ia langsung
marah dan memaki-maki orang yang masuk kedalam kamarnya. Hanya orang tuanya
yang diperbolehkan masuk kedalam kamarnya. Setiap orang tuanya masuk kedalam
kamarnya ia selalu berkata ngelantur. Mengucapkan kata-kata yang sama dan
setiap pertanyaan yang ia tanyakan harus dijawab dengan kata” iya”. Setiap
orang tuanya mengatakan” tidak” ia akan menangis. Tentunya setiap orang tua tak
ingin membuat anaknya menangis, maka setiap ia bertanya orang tuanya selalu mengiyakan.
Orang tuanya disibukan
dengan tingkah lakunya. Setiap saat dan setiap waktu orang tuanya harus mengawasi
setiap gerak dan tingkah lakunya. Setiap mau makan ia harus dibujuk terlebih
dahulu agar ia mau makan. Kebohongan yang orang tuanya lakukan semua untuknya,
agar ia mau makan dan mau menurut kata-kata orang tuannya. Segala upaya telah
dilakukan orang tuanya untuk kesembuhan anaknya. Mulai dari pengobatan melalui
jalur dokter sampai jalur alternatif telah dilakukan orang tuanya. Banyak tempat
pengobatan yang telah dikunjungi bahkan
sampai keluar kota, banyak uang yang telah dikeluarkan tetapi tidak bisa
mengobati anaknya.
Para kerabat pun
menjadi simpati dengan keadaannya. Mereka membantu mencari jalan keluar.
Mencari informasi orang yang bisa mengobati saudaranya. Mulai dari mencari
dokter yang mampu mengobatinya sampai mencari orang pintar seperti dukun dan
yang lainnya. Tetapi semua tidak berguna, karena semua jalan itu tidak
membuatnya sembuh.
Setiap hari orang
tuanya selalu berdoa untuk kesembuhannya. Setiap tetes air matanya selalu
menetes tiap kali mengucapkan doa. Doa yang selalu terucap dari hati yang
terdalam. Berharap agar Sang Pencipta mau memaafkan tingkah laku anaknya yang
telah kelewat batas dan mengakibatkannya menjadi seperti ini. Berdoa agar
anaknya sembuh dari penderitaan yang telah dideritanya saat ini.
Bertahun-tahun ia
menjalani kehidupan seperti ini. Sampai akhirnya maut menjemputnya. Mungkin ini
memang jalan terbaik untuk menghilangkan penderitaanya selama ini. Orang tuanya
telah merelakan kepergiannya. Tetes air mata keluarga dan para kerabat dekatnya
menemaninya ketempat peristirahatan terakhirnya.





This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete