DI KEJAR BANCI

Sunday, March 18, 2012

by : Putu Saddam
 

Mereka memang orang-orang sinting. Mereka selalu mengejek orang yang tidak sepaham dengan mareka. Apa lagi waktu melihat banci. Mereka pasti akan mengejeknya habis-habisan. Banci tersebut pasti akan marah mendengar ejekan mereka. Mereka lari terbirit-birit dikejar banci. Kejadian ini tidak hanya terjadi sekali tetapi berkali-kali setiap mereka melihat banci. Aku ingat waktu pertama melakukan itu bersama meraka.

Malam minggu ditaman KB. Kami duduk lesehan sambil menikmati makanan yang kami beli ditemani sajian musik dari band lokal. Kami melihat banyak sekali sepasang kekasih memadu kasih menikmati suasana malam minggu di taman KB. Tua muda tak ada batasan semua berkumpul jadi satu disini. Menikmati suasana malam minggu. Kami melihat ada banci. Kalau dilihat dari belakang dia tidak kelihatan seperti banci. Tubuhnya begitu tinggi seperti model dengan bentuk kaki yang begitu indah. Kami sangat terpesona melihatnya tetapi kami kaget saat dia menoleh ke arah kami. Rasa kagum kami menghilang saat melihatnya terganti rasa jijik. Dani membuat rencana untuk mengerjai dia. Kami sangat antusias mendengarkannya. Setelah selesai berdiskusi kami menjalankan rencana kami. Kami mendekatinya. Mengajaknya berkenalan.  
“hai…boleh kenalan nggak.” Ucap Dani.
“boleh donk.” Ucap banci.
“nama kamu sapa.” Ucap Yogi
“nama aku Shela mas, nama kamu siapa mas?” jawabnya dengan genit.
“shela sapa?” ucapku.
“shelamat maksudnya” jawab Sam.
“ha….ha….ha……” kami langsung tertawa terbahak-bahak.
“KURANG AJAR.” Suaranya berubah menjadi laki-laki.
            Kami kaget. Kami lari terbirit-birit di kejar banci. Tanpa menoleh kebelakang kami terus berlari.
“wwoyy….jangan lari kalian” ucapnya sangat marah sambil mengejar kami.
Kami berlari menghindari kejaran banci tersebut dan berusaha tidak tertangkap olehnya. Semua orang yang berada di taman KB menertawakan kekonyolan kami. Sam berhasil ditangkapnya. Kami kembali untuk menyelamatkan Sam. Dia kelihatan sangat ketakutan. Mukanya begitu memelas meminta pengampunan darinya.
“ampun om…..”
“kamu tadi bilang apa?”
“berani kamu?”
            Banci tersebut sangat marah. Dia melapas wigsnya. Dia mengajak Sam berkelahi. Sangat menakutkan melihat banci tersebut.
“ampun om….” Ucap Sam sambil merengek-rengek meminta maaf.
            Muka Sam sudah sangat pucat. Dia benar-benar ketakutan. Keringat dingin tak henti-hentinya bercucuran membasahi tubuhnya. Kaos yang dia kenakan basah oleh keringatnya.
            Tak lama kemudian kami menghampiri Sam. Kami meminta maaf telah mengejeknya. Kami memelas-melas agar dia mau melepaskan kami.
“maafkan kami om……”
“tidak bisa, kalian sudah membuat aku marah.” Ucap banci tersebut dengan nada membentak.
“maafkan kami……”
“kami nggak akan mengulangi lagi om…..”
“baik aku maafkan, tapi ada satu syarat.”
“apa itu om.”
“kalian malam ini harus ikut aku ngamen.”
            Kami sangat kaget mendengar syarat yang diberikan. Kami tak mempunyai pilihan kecuali ikut dengannya. Kami ngamen bersama dengannya. Diiringi lagu dangdut yang dinyanyikan oleh banci tersebut. Kami disuruh joget sedangkan dia menyanyi. Suaranya sangat jelek. Ini adalah pengalaman pertama kami. Kami sangat malu. Setiap pasang mata melihat kami. Lama-lama kami sangat menikmatinya. Yang tadinya malu-malu berubah menjadi kegembiraan. Canda tawa menghiasi setiap jogetan kami.
            Pukul sebelas malam kami selesai ngamen. Badan terasa sangat lelah. Kami menghitung penghasilan mala mini. Kami melihat banyak sekali uang yang kami dapat.mulai dari recehan sampai lembaran.
“ini bagian kalian.” Ucap banci tersebut sambil menyodorkan uang hasil ngamen.
“nggak usah, ini buat kamu ja.” Ucap Sam.
“nggak bisa gitu, ini kan hasil kerja kita.” Ucap banci tersebut bersikeras.
“nggak usah, Kami ngamen bukan untuk cari uang tapi untuk membantu kamu.” Jawab Yogi bijaksana.
“ya udah kalau nggak mau….”  
“kami udah bebas kan?” Tanya Sam.
“iya….” Ucap banci tersebut.
“bearti kita boleh pergi?”
“iya…tapi tunggu dulu”
            Kami sangat kaget tiba-tiba saja banci tersebut beranjak dari tempat duduknya menghampiri Dani lalu mencium pipinya. Kami tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu. Dani kaget setengah mati.
“ha….ha….ha….” kami tertawa melihat kejadian itu.
“kenapa kalian tertawa?” suara banci tersebut berubah menjadi laki-laki.
            Kami langsung terdiam mendengar suaranya. 
“makasih ya.” ucap banci tersebut lalu pergi meninggalkan kami.
            Setelah banci tersebut pergi. Kami tertawa lagi. Tawa kami bertambah keras saat melihat ada bekas lipstick di pipi Dani. Dani cepat-cepat menghapus bekas lipstick tersebut. Yogi dan Sam memegang tangan Dani. Aku cepat-cepat mengambil handphoneku. Aku foto bekas lipstick yang masih menempel di pipi Dani. Aku, Yogi dan Sam melihat hasil jepretanku. Mereka tertawa terbahak-bahak. Dani masih sibuk menghapus bekas lipstick tersebut. 



March 18, 2012

0 comments:

Post a Comment