by : Putu Saddam
Mereka memang
orang-orang sinting. Mereka selalu mengejek orang yang tidak sepaham dengan
mareka. Apa lagi waktu melihat banci. Mereka pasti akan mengejeknya
habis-habisan. Banci tersebut pasti akan marah mendengar ejekan mereka. Mereka
lari terbirit-birit dikejar banci. Kejadian ini tidak hanya terjadi sekali
tetapi berkali-kali setiap mereka melihat banci. Aku ingat waktu pertama
melakukan itu bersama meraka.
Malam minggu ditaman KB. Kami duduk lesehan sambil menikmati makanan yang kami beli ditemani sajian musik dari band lokal. Kami melihat banyak sekali sepasang kekasih memadu kasih menikmati suasana malam minggu di taman KB. Tua muda tak ada batasan semua berkumpul jadi satu disini. Menikmati suasana malam minggu. Kami melihat ada banci. Kalau dilihat dari belakang dia tidak kelihatan seperti banci. Tubuhnya begitu tinggi seperti model dengan bentuk kaki yang begitu indah. Kami sangat terpesona melihatnya tetapi kami kaget saat dia menoleh ke arah kami. Rasa kagum kami menghilang saat melihatnya terganti rasa jijik. Dani membuat rencana untuk mengerjai dia. Kami sangat antusias mendengarkannya. Setelah selesai berdiskusi kami menjalankan rencana kami. Kami mendekatinya. Mengajaknya berkenalan.
“hai…boleh kenalan nggak.” Ucap Dani.
“boleh donk.” Ucap banci.
“nama kamu sapa.” Ucap Yogi
“nama aku Shela mas, nama kamu siapa
mas?” jawabnya dengan genit.
“shela sapa?” ucapku.
“shelamat maksudnya” jawab Sam.
“ha….ha….ha……” kami langsung tertawa
terbahak-bahak.
“KURANG AJAR.” Suaranya berubah menjadi
laki-laki.
Kami
kaget. Kami lari terbirit-birit di kejar banci. Tanpa menoleh kebelakang kami
terus berlari.
“wwoyy….jangan lari kalian” ucapnya
sangat marah sambil mengejar kami.
Kami berlari
menghindari kejaran banci tersebut dan berusaha tidak tertangkap olehnya. Semua
orang yang berada di taman KB menertawakan kekonyolan kami. Sam berhasil
ditangkapnya. Kami kembali untuk menyelamatkan Sam. Dia kelihatan sangat
ketakutan. Mukanya begitu memelas meminta pengampunan darinya.
“ampun om…..”
“kamu tadi bilang apa?”
“berani kamu?”
Banci
tersebut sangat marah. Dia melapas wigsnya. Dia mengajak Sam berkelahi. Sangat
menakutkan melihat banci tersebut.
“ampun om….” Ucap Sam sambil
merengek-rengek meminta maaf.
Muka
Sam sudah sangat pucat. Dia benar-benar ketakutan. Keringat dingin tak
henti-hentinya bercucuran membasahi tubuhnya. Kaos yang dia kenakan basah oleh
keringatnya.
Tak
lama kemudian kami menghampiri Sam. Kami meminta maaf telah mengejeknya. Kami
memelas-melas agar dia mau melepaskan kami.
“maafkan kami om……”
“tidak bisa, kalian sudah membuat aku
marah.” Ucap banci tersebut dengan nada membentak.
“maafkan kami……”
“kami nggak akan mengulangi lagi om…..”
“baik aku maafkan, tapi ada satu
syarat.”
“apa itu om.”
“kalian malam ini harus ikut aku ngamen.”
Kami
sangat kaget mendengar syarat yang diberikan. Kami tak mempunyai pilihan
kecuali ikut dengannya. Kami ngamen bersama dengannya. Diiringi lagu dangdut
yang dinyanyikan oleh banci tersebut. Kami disuruh joget sedangkan dia
menyanyi. Suaranya sangat jelek. Ini adalah pengalaman pertama kami. Kami
sangat malu. Setiap pasang mata melihat kami. Lama-lama kami sangat
menikmatinya. Yang tadinya malu-malu berubah menjadi kegembiraan. Canda tawa
menghiasi setiap jogetan kami.
Pukul
sebelas malam kami selesai ngamen. Badan terasa sangat lelah. Kami menghitung
penghasilan mala mini. Kami melihat banyak sekali uang yang kami dapat.mulai
dari recehan sampai lembaran.
“ini bagian kalian.” Ucap banci tersebut
sambil menyodorkan uang hasil ngamen.
“nggak usah, ini buat kamu ja.” Ucap
Sam.
“nggak bisa gitu, ini kan hasil kerja
kita.” Ucap banci tersebut bersikeras.
“nggak usah, Kami ngamen bukan untuk
cari uang tapi untuk membantu kamu.” Jawab Yogi bijaksana.
“ya udah kalau nggak mau….”
“kami udah bebas kan?” Tanya Sam.
“iya….” Ucap banci tersebut.
“bearti kita boleh pergi?”
“iya…tapi tunggu dulu”
Kami
sangat kaget tiba-tiba saja banci tersebut beranjak dari tempat duduknya
menghampiri Dani lalu mencium pipinya. Kami tertawa terbahak-bahak melihat
kejadian itu. Dani kaget setengah mati.
“ha….ha….ha….” kami tertawa melihat
kejadian itu.
“kenapa kalian tertawa?” suara banci
tersebut berubah menjadi laki-laki.
Kami
langsung terdiam mendengar suaranya.
“makasih ya.” ucap banci tersebut lalu
pergi meninggalkan kami.
Setelah
banci tersebut pergi. Kami tertawa lagi. Tawa kami bertambah keras saat melihat
ada bekas lipstick di pipi Dani. Dani cepat-cepat menghapus bekas lipstick
tersebut. Yogi dan Sam memegang tangan Dani. Aku cepat-cepat mengambil
handphoneku. Aku foto bekas lipstick yang masih menempel di pipi Dani. Aku,
Yogi dan Sam melihat hasil jepretanku. Mereka tertawa terbahak-bahak. Dani
masih sibuk menghapus bekas lipstick tersebut.





0 comments:
Post a Comment