by : Putu Saddam
Aku berjalan di pusat pembelanjaan di pusat kota semarang. aku melihat semua outlet menjual barang-barang yang sangat bagus dan menarik, mulai dari barang yang kecil sampai barang yang besar, mulai dari harga ribuan sampai yang berharga jutaan. Tiba-tiba aku ingat waktu perjalanan kesini sepertinya handphoneku getar. Ternyata benar, aku lihat ada lima pesan masuk dan dua panggilan tak terjawab dari Sam. Karena handphoneku dalam kondisi silent jadi aku tidak sadar kalau ada pesan masuk dan telpon. Aku lupa kalau hari ini ada latihan band. Aku telpon balik dan mencoba minta maaf.
Tut…..tut…..tut……
“ya…..”
“sorry Sam aku nggak tahu kalau kamu
telpon tadi.”
“anak-anak masih disitu?”
“ni masih pada teler.”
“gila jam segini mabuk.”
”gini ja, nanti malem kumpul dirumahku
ja gimana?”
“ya……”
Tut….tut…..tut……
“Sam langsung menutup telponnya.
Kelihatannya mereka kecewa karena aku tidak menepati jadwal latihan yang sudah
dibuat bersama-sama. Sam juga kelihatan mabuk waktu menjawab telponku.” Ucapku
dalam hati.
Aku meneruskan
langkahku menyelusuri pusat pembelanjaan. langkahku berhenti saat melihat kotak
musik berbentuk hati, berwarna pink dan banyaknya pernak-pernik yang menempel
mengelilinginnya dilambah lagi di dalamnya terdapat sepasang patung penari
balet. Di dalam outlet yang cukup menarik karena beda dari outlet yang lain. dengan
warna pink yang mencolok di setiap dindingnya ditambah lagi dengan para pramuniaga yang kebanyakan masih muda,
cantik dan memiliki paras yang menarik mengenakan setelan warna pink. Di dalam
outlet banyaknya anak muda kususnya kaum hawa sedang memilih-milih pernak-pernik
seperti gelang, kalung, anting, gantungan kunci dan masih banyak lagi. Juga
terdapat berbagai macam boneka mulai yang kecil sampai yang besar tertata
dengan rapi. Melihat pemandangan seperti itu, aku merasa tidak percaya diri
untuk masuk ke dalam outlet dan membeli kotak musik tersebut karena didalam
outlet banyak kaum hawa. Tanpa memperpedulikan rasa malu aku memberanikan diri
masuk ke dalam outlet.
“Kenapa
harus malu toh mereka tidak mengenal aku.” Ucapku dalam hati memberi semangat.
Aku berjalan
masuk, rasa malu dari tadi menghantui aku dan semakin menjadi-jadi. Keringat
dingin mengalir dengan deras karena rasa malu. Aku ikut membaur dengan para
kaum hawa yang sedang memilih pernak-pernik. Di dalam outlet serasa seperti
banyak pasang mata memperhatikanku, ‘mungkin dalam fikiran mereka ngapain cowok
masuk sini?’ Tanpa memperpedulikan mereka aku langsung mengambil kotak musik berbentuk
hati tersebut dan membukanya. Terdengar suara yang enak didengar dan patung
sepasang penari balet berputar-putar didalam kotak musik. Tanpa sadar aku telah
merebut perhatian mereka yang telah sibuk memilih-milih pernak-pernik. Mereka
langsung menatap ke arahku karena suara musik cukup keras, mungkin karena
baterainya masih baru. Wajahku langsung memerah dan keringat dingin bercucuran
tambah deras. Seketika itu aku tutup kotak musik tersebut dan langsung menuju kasir untuk melakukan
pembayaran. Sampai ditempat kasir aku melihat penjaga kasir tersebut. Dia masih
muda mungkin seumuran denganku. dia sangat cantik dengan rambut panjang teruai.
Senyumnya begitu manis dan kelihatannya dia juga sangat ramah. Siapa pun yang
melihatnya pasti sangat terkesima begitu pula dengan diriku saat melihatnya. Pemilik
outlet ini memang sangat jeli memilih karyawan.
“hadiah buat sapa mas?” ucap penjaga
kasir sambil memasukan kotak musik yang aku beli ke dalam dusnya.
“buat temen mbak.” Ucapku dengan sedikit
senyum.
“temen pa teman?” ucapnya mengajak
bercanda.
“temen mbak.”
“terima kasih atas kunjungannya” ucap
penjaga kasir dengan ramah.
Setelah selesai melakukan
pembayaran aku langsung keluar dari outlet karena rasa malu sudah tak
terbendung lagi. Aku berdoa dalam hati semoga teman-temanku tidak ada yang
melihat aku di dalam outlet. Kalau ada satu saja temanku yang melihat pasti nanti
akan menyebar ke teman-teman yang lain dan aku akan menjadi bahan ejekan. Mungkin
perasaan ini terlalu berlebihan tetapi memang itulah yang aku rasakan. Baru
kali ini aku masuk ke dalam outlet dan mambeli barang disitu. Mungkin akan
menjadi pengalaman yang tak akan bisa aku lupakan. Seorang yang bernama sandy rela
masuk ke dalam outlet yang hanya berisi para kaum hawa, hanya untuk membeli
sebuah ksotak musik untuk seorang wanita yang belum lama dia kenal.
Aku keluar dari
pusat pembelanjaan, langsung menuju parkiran sepeda motor. Waktu perjalanan
pulang aku tertawa sendiri membayangkan apa yang telah aku lakukan tadi.
Benar-benar memalukan. Rasa malu ini tak pernah mau hilang saat aku
mengingatnya kembali. Saat aku mulai masuk ke dalam outlet dan membuka kotak
musik untuk mendengarkan suara yang keluar dari kotak musik tersebut. Beruntung
aku sendirian, kalau ada satu saja temanku yang melihat pasti jadi bahan
ejekan.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk
kamar dan duduk diranjang. Kamar yang sangat berantakan karena tidak semua
orang boleh masuk kamarku begitu juga dengan mbok imah, oleh karena itu kamarku
tak ada yang membersihkannya kecuali diriku sendiri yang melalukannya. Aku buka
kotak musik tersebut dan mendengarkan suara yang begitu merdu keluar dari kotak
berbentuk hati dengan warna pink dan hiasan pernak-pernik disekelilingnya. Di
dalamnya tersapang patung sepasang menari balet dengan anggunnya berputar
seiring musik berbunyi. Aku tak henti-hentinya aku mendengarkan kan menikmati
sepasang kekasih balet berputar-putar. Aku mulai berimajinasi membayangkan
diriku dan dirinya menari bersama di iringi musik yang begitu romantis. Di alam
terbuka ditemani beberapa lilin untuk penerangan menambah keromantisan kita. Kenikmatanku
terganggu saat ada seseorang mengetuk pintu kamarku.
“siapa?”
“saya den…mbok imah.”
“kenapa mbok?” ucapku sambil membuka
pintu kamar.
“maaf den….ganggu, ada den.. yogi sama
den…sam dibawah ”
“suruh sini ja mbok”
“baik den…”
Aku
langsung masuk ke dalam kamar. Aku simpan kotak musik tersebut ke dalam almari
pakaian agar mareka tidak melihatnya. Tak lama mereka masuk kamarku. Yogi
tampak sangat marah.
“Dia kenapa?”
“biasa….,kayak kamu nggak tahu ja.” Ucap
Sam sambil menghampiri gitar di sudut kamarku.
“ooo…..”
Di
dalam kamar sam memegang gitar dan menyanyikan lagu kebanggaannya. Lagu yang
dibuatnya sendiri. Sam memang senang menulis lagu sendiri. Menurutnya itu
sebuah kepuasan tersendiri untuk mengungkapkan rasa dihatinya. Walaupun
terkadang lagu buatannya tidak bagus, tetapi itu bukan masalah untuk aku dan
Yogi. Lagu ciptaan Sam pasti tak jauh dari cinta mungkin karena dia suka
mendengarkan musik mellow jadi seperti ini. Yogi juga bisa menulis lagu.
Kebanyakan lagu ciptaannya tentang anti cinta karena tidak pernah ada kata
cinta disetiap lirik yang dia tulis. Mungkin karena dia merasa tidak ada rasa
cinta dalam keluarganya.
“Dani mana?”
“nggak tahu, dia nggak bisa dihubungi.”
Aku
dan Yogi duduk sambil menikmati rokok yang kami sulut. Menikmati setiap nikotin
yang masuk kedalam tubuh. Kenikmatan yang dicari setiap perokok. Kami bercanda
gurau dan saling mengejek tapi tak ada satu pun dari kami yang marah. Karena
kami tahu itu Cuma sebuah hiburan. Malam ini sedikit dingin karena sedang hujan
lebat. Kami becanda gurau ditemani rokok dan bir yang aku beli tadi sebelum
pulang kerumah.
“San ada makanan nggak?”
“laper ni.” Ucap Sam.
“iya aku juga laper dari tadi belum
makan.” Timpa Yogi.
“nggak tahu, beli nasi goreng ja
gimana?”
“sinting….aku nggak mau keluar cuma buat
beli nasi goreng?” ucap Yogi.
“setuju…..aku juga nggak mau.” Ucap Sam
mendukung Yogi.
“tenang nggak usah kuatir.”
Aku
ambil handphoneku yang aku taruh meja. Mereka masih bingung melihat tingkahku. Aku
telpon mas supri. Dia adalah penjual nasi goreng langgananku.
Tut….tut…..tut……..
“iya mas sandy”
“mas supri aku pesen nasi goreng tiga,
jangan pedes-pedes.”
“aku tunggu didepan rumah”
“siap mas sandy, nasi goreng tiga siap
diantar.”
Tut….tut….tu…..
“hebat banget, disini ada nasi goreng
delivery”
“kalau bakso delivery ada nggak?” Tanya
Sam.
“ada, lihat ja di phonebooknya Sandy.”
Jawab Yogi
“ha….ha….ha…..” kami tertawa
bersama-sama mendengar jawaban Yogi.
“sialan kalian, aku mau turun dulu
nunggu nasi gorengnya”
Tak
lama menunggu akhirnya pesananku datang juga. Selesai membayar aku langsung
masuk rumah karena dinginnya malam ini.
“lama banget, udah laper ni.”
“cerewet, udah tu dimakan terus diem.”
“enak nggak ni?”
“pastinya, kalau tu nggak usah ditanya
lagi”
“awas kalau nggak enak”
“kalau nggak enak uang kembali tenang
ja”
Sedang
asik-asiknya makan tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata dari telpon dari
Dani.
“San, aku nginep rumah kamu ya.”
“Ok..,,kamu dimana?”
“udah didepan rumah, cepet bukain
pintunya.”
Tut…tut..tut…..
Dani
masuk rumah dengan pakaian basah kuyup dan tubuhnya menggigil kadinginan karena
kehujanan.
“habis dari mana?”
“dari rumah saudara di salatiga”
“ni handukan dulu terus naek di atas
ganti baju, disana ada Sam ma Yogi.”
“kamu mau ngapain?”
“mau buat kopi.”
Dani
masuk kedalam kamar.dia langsung membuka almari pakaianku. Dia mengambil celana
training pendek dan kaos. Dia menemukan kotak musik yang aku simpan. Dia tak
bisa menahan tawanya. Tawanya begitu keras hingga membuat Yogi dan Sam
kaget. Dani mengambil kotak musik tersebut
dan memperlihatkannya kepada Yogi dan Sam. Mereka berdua langsung ikut tertawa
melihatnya.
“dasar banci.”
“ha….ha….ha…..”
“warnanya cewek banget.”
“jangan-jangan Sandy ikut grup pinker.”
“ha….ha…..ha…..”
“lihat ni pinggirannya!”
“wah……blink-blink.”
“ha…ha…ha…..”
Mereka
terus melontarkan ejekan lalu tertawa terbahak-bahak. aku di dapur sedang
membuat kopi kaget mendengar tawa mereka. Tawa mereka begitu keras sehingga aku
yang dibawah mendengarnya. Selesai membuat kopi langsung aku bawa ke kamarku.
Ternyata Dani lupa menutup pintu kamar sehingga suara tawa mereka terdengar
sampai bawah. Aku melihat mereka tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air
mata. Aku langsung menutup pintu kamar. Aku ambil kotak musik tersebut dari
mereka.
“wooyy…,kenapa diambil?” Tanya Sam.
“biar nggak rusak, kalau dipegang kalian
pasti nanti rusak.”
“dasar sipit pelit.” Ucap Yogi.
“ha….ha….ha…..” Mereka tertawa
terbahak-bahak lagi.
“tu buat sapa?” Tanya Dani.
“buat Lara.”
“tumben-tumbenan kamu kayak gitu, sok romantis.”
“ kena pelet apa?” Tanya Sam curiga.
“pelet penggoda nyai Lara.” Jawab Dani.
“ha…ha….ha….”
“emang kamu nggak tahu gosipnya si May”
“aku nggak percaya sebelum ngelihat
sendiri”
Aku
sodorkan kopi panas yang aku buat. Seketika malam ini terasa hening karena mereka
sudah tidak mengejekku lagi. Mereka menikmati kopi yang aku buat. Merasakan
nikotin bercampur dengan kafein menyatu didalam tubuh. Kalau sudah minum kopi
dan menghisap nikotin dalam rokok mereka langsung tenang. Seperti singa yang kelaparan
diberi daging. Auangnya tak terdengar lagi.
Akhirnya
mereka tertidur juga. Aku bisa menikmati alunan nada yang keluar dari kotak
musik tanpa gangguan mereka. Suara yang begitu merdu dengan penerangan
remang-reng dari lampu kamarku. Sedang asik-asiknya mendengarkannya handphoneku
berbunyi. Ternyata dari Lara.
“iya Lara.”
“kamu gy pa San?”
“dengerin musik, tumben jam segini
telpon?”
“emang kenapa?”
“kalau nggak boleh aku matiin.”
“boleh kok.”
“he…he….he…..”
“kenapa ketawa?”
“emang aku lucu?”
“kamu nggak lucu tapi aneh, masak aku
bilang gitu aja kamu langsung nyolot”
“he…he…he…”
“maaf ya San”
Setelah
cukup lama aku tak bisa menahan rasa ngantukku. Rasa lelah yang telah memaksaku
untuk memejamkan mata. Aku tertidur dalam kondisi masih menelpon. Lara tidak
tahu kalau aku telah tertidur dia terus saja bicara tanpa ada jeda. Dia memang
seorang wanita cerewet. Dia selalu punya topik untuk dibahas. Julukan bebek
yang aku berikan kepadanya memang pantas ditujukan untuknya. Suaranya yang
begitu merdu mengantarku untuk mimpi indah dimalam ini.





0 comments:
Post a Comment