KOTAK MUSIK

Sunday, March 18, 2012

by : Putu Saddam


Aku berjalan di pusat pembelanjaan di pusat kota semarang. aku melihat semua outlet menjual barang-barang yang sangat bagus dan menarik, mulai dari barang yang kecil sampai barang yang besar, mulai dari harga ribuan sampai yang berharga jutaan. Tiba-tiba aku ingat  waktu perjalanan kesini sepertinya handphoneku getar. Ternyata benar, aku lihat ada lima pesan masuk dan dua panggilan tak terjawab dari Sam. Karena handphoneku dalam kondisi silent jadi aku tidak sadar kalau ada pesan masuk dan telpon. Aku lupa kalau hari ini ada latihan band. Aku telpon balik dan mencoba minta maaf.
Tut…..tut…..tut……
“ya…..”

“sorry Sam aku nggak tahu kalau kamu telpon tadi.”
“anak-anak masih disitu?”
“ni masih pada teler.”
“gila jam segini mabuk.”
”gini ja, nanti malem kumpul dirumahku ja gimana?”
“ya……”
Tut….tut…..tut……
“Sam langsung menutup telponnya. Kelihatannya mereka kecewa karena aku tidak menepati jadwal latihan yang sudah dibuat bersama-sama. Sam juga kelihatan mabuk waktu menjawab telponku.” Ucapku dalam hati.
Aku meneruskan langkahku menyelusuri pusat pembelanjaan. langkahku berhenti saat melihat kotak musik berbentuk hati, berwarna pink dan  banyaknya pernak-pernik yang menempel mengelilinginnya dilambah lagi di dalamnya terdapat sepasang patung penari balet. Di dalam outlet yang cukup menarik karena beda dari outlet yang lain. dengan warna pink yang mencolok di setiap dindingnya ditambah lagi dengan  para pramuniaga yang kebanyakan masih muda, cantik dan memiliki paras yang menarik mengenakan setelan warna pink. Di dalam outlet banyaknya anak muda kususnya kaum hawa sedang memilih-milih pernak-pernik seperti gelang, kalung, anting, gantungan kunci dan masih banyak lagi. Juga terdapat berbagai macam boneka mulai yang kecil sampai yang besar tertata dengan rapi. Melihat pemandangan seperti itu, aku merasa tidak percaya diri untuk masuk ke dalam outlet dan membeli kotak musik tersebut karena didalam outlet banyak kaum hawa. Tanpa memperpedulikan rasa malu aku memberanikan diri masuk ke dalam outlet.
 “Kenapa harus malu toh mereka tidak mengenal aku.” Ucapku dalam hati memberi semangat.
Aku berjalan masuk, rasa malu dari tadi menghantui aku dan semakin menjadi-jadi. Keringat dingin mengalir dengan deras karena rasa malu. Aku ikut membaur dengan para kaum hawa yang sedang memilih pernak-pernik. Di dalam outlet serasa seperti banyak pasang mata memperhatikanku, ‘mungkin dalam fikiran mereka ngapain cowok masuk sini?’ Tanpa memperpedulikan mereka aku langsung mengambil kotak musik berbentuk hati tersebut dan membukanya. Terdengar suara yang enak didengar dan patung sepasang penari balet berputar-putar didalam kotak musik. Tanpa sadar aku telah merebut perhatian mereka yang telah sibuk memilih-milih pernak-pernik. Mereka langsung menatap ke arahku karena suara musik cukup keras, mungkin karena baterainya masih baru. Wajahku langsung memerah dan keringat dingin bercucuran tambah deras. Seketika itu aku tutup kotak musik tersebut dan  langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Sampai ditempat kasir aku melihat penjaga kasir tersebut. Dia masih muda mungkin seumuran denganku. dia sangat cantik dengan rambut panjang teruai. Senyumnya begitu manis dan kelihatannya dia juga sangat ramah. Siapa pun yang melihatnya pasti sangat terkesima begitu pula dengan diriku saat melihatnya. Pemilik outlet ini memang sangat jeli memilih karyawan.  
“hadiah buat sapa mas?” ucap penjaga kasir sambil memasukan kotak musik yang aku beli ke dalam dusnya.
“buat temen mbak.” Ucapku dengan sedikit senyum.
“temen pa teman?” ucapnya mengajak bercanda.
“temen mbak.”
“terima kasih atas kunjungannya” ucap penjaga kasir dengan ramah.
Setelah selesai melakukan pembayaran aku langsung keluar dari outlet karena rasa malu sudah tak terbendung lagi. Aku berdoa dalam hati semoga teman-temanku tidak ada yang melihat aku di dalam outlet. Kalau ada satu saja temanku yang melihat pasti nanti akan menyebar ke teman-teman yang lain dan aku akan menjadi bahan ejekan. Mungkin perasaan ini terlalu berlebihan tetapi memang itulah yang aku rasakan. Baru kali ini aku masuk ke dalam outlet dan mambeli barang disitu. Mungkin akan menjadi pengalaman yang tak akan bisa aku lupakan. Seorang yang bernama sandy rela masuk ke dalam outlet yang hanya berisi para kaum hawa, hanya untuk membeli sebuah ksotak musik untuk seorang wanita yang belum lama dia kenal.
Aku keluar dari pusat pembelanjaan, langsung menuju parkiran sepeda motor. Waktu perjalanan pulang aku tertawa sendiri membayangkan apa yang telah aku lakukan tadi. Benar-benar memalukan. Rasa malu ini tak pernah mau hilang saat aku mengingatnya kembali. Saat aku mulai masuk ke dalam outlet dan membuka kotak musik untuk mendengarkan suara yang keluar dari kotak musik tersebut. Beruntung aku sendirian, kalau ada satu saja temanku yang melihat pasti jadi bahan ejekan.  
Sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar dan duduk diranjang. Kamar yang sangat berantakan karena tidak semua orang boleh masuk kamarku begitu juga dengan mbok imah, oleh karena itu kamarku tak ada yang membersihkannya kecuali diriku sendiri yang melalukannya. Aku buka kotak musik tersebut dan mendengarkan suara yang begitu merdu keluar dari kotak berbentuk hati dengan warna pink dan hiasan pernak-pernik disekelilingnya. Di dalamnya tersapang patung sepasang menari balet dengan anggunnya berputar seiring musik berbunyi. Aku tak henti-hentinya aku mendengarkan kan menikmati sepasang kekasih balet berputar-putar. Aku mulai berimajinasi membayangkan diriku dan dirinya menari bersama di iringi musik yang begitu romantis. Di alam terbuka ditemani beberapa lilin untuk penerangan menambah keromantisan kita. Kenikmatanku terganggu saat ada seseorang mengetuk pintu kamarku.
“siapa?”
“saya den…mbok imah.”
“kenapa mbok?” ucapku sambil membuka pintu kamar.
“maaf den….ganggu, ada den.. yogi sama den…sam dibawah ”
“suruh sini ja mbok”
“baik den…”
            Aku langsung masuk ke dalam kamar. Aku simpan kotak musik tersebut ke dalam almari pakaian agar mareka tidak melihatnya. Tak lama mereka masuk kamarku. Yogi tampak sangat marah.
“Dia kenapa?”
“biasa….,kayak kamu nggak tahu ja.” Ucap Sam sambil menghampiri gitar di sudut kamarku.
“ooo…..”
            Di dalam kamar sam memegang gitar dan menyanyikan lagu kebanggaannya. Lagu yang dibuatnya sendiri. Sam memang senang menulis lagu sendiri. Menurutnya itu sebuah kepuasan tersendiri untuk mengungkapkan rasa dihatinya. Walaupun terkadang lagu buatannya tidak bagus, tetapi itu bukan masalah untuk aku dan Yogi. Lagu ciptaan Sam pasti tak jauh dari cinta mungkin karena dia suka mendengarkan musik mellow jadi seperti ini. Yogi juga bisa menulis lagu. Kebanyakan lagu ciptaannya tentang anti cinta karena tidak pernah ada kata cinta disetiap lirik yang dia tulis. Mungkin karena dia merasa tidak ada rasa cinta dalam keluarganya.
“Dani mana?”
“nggak tahu, dia nggak bisa dihubungi.”
            Aku dan Yogi duduk sambil menikmati rokok yang kami sulut. Menikmati setiap nikotin yang masuk kedalam tubuh. Kenikmatan yang dicari setiap perokok. Kami bercanda gurau dan saling mengejek tapi tak ada satu pun dari kami yang marah. Karena kami tahu itu Cuma sebuah hiburan. Malam ini sedikit dingin karena sedang hujan lebat. Kami becanda gurau ditemani rokok dan bir yang aku beli tadi sebelum pulang kerumah.
“San ada makanan nggak?”
“laper ni.” Ucap Sam.
“iya aku juga laper dari tadi belum makan.” Timpa Yogi.
“nggak tahu, beli nasi goreng ja gimana?”
“sinting….aku nggak mau keluar cuma buat beli nasi goreng?” ucap Yogi.
“setuju…..aku juga nggak mau.” Ucap Sam mendukung Yogi. 
“tenang nggak usah kuatir.”
            Aku ambil handphoneku yang aku taruh meja. Mereka masih bingung melihat tingkahku. Aku telpon mas supri. Dia adalah penjual nasi goreng langgananku.
Tut….tut…..tut……..
“iya mas sandy”
“mas supri aku pesen nasi goreng tiga, jangan pedes-pedes.”
“aku tunggu didepan rumah”
“siap mas sandy, nasi goreng tiga siap diantar.”
Tut….tut….tu…..
“hebat banget, disini ada nasi goreng delivery”
“kalau bakso delivery ada nggak?” Tanya Sam.
“ada, lihat ja di phonebooknya Sandy.” Jawab Yogi
“ha….ha….ha…..” kami tertawa bersama-sama mendengar jawaban Yogi.
“sialan kalian, aku mau turun dulu nunggu nasi gorengnya”
            Tak lama menunggu akhirnya pesananku datang juga. Selesai membayar aku langsung masuk rumah karena dinginnya malam ini.
“lama banget, udah laper ni.”
“cerewet, udah tu dimakan terus diem.”
“enak nggak ni?”
“pastinya, kalau tu nggak usah ditanya lagi”
“awas kalau nggak enak”
“kalau nggak enak uang kembali tenang ja”
            Sedang asik-asiknya makan tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata dari telpon dari Dani.
“San, aku nginep rumah kamu ya.”
“Ok..,,kamu dimana?”
“udah didepan rumah, cepet bukain pintunya.”
Tut…tut..tut…..
            Dani masuk rumah dengan pakaian basah kuyup dan tubuhnya menggigil kadinginan karena kehujanan.
“habis dari mana?”
“dari rumah saudara di salatiga”
“ni handukan dulu terus naek di atas ganti baju, disana ada Sam ma Yogi.”
“kamu mau ngapain?”
“mau buat kopi.”
            Dani masuk kedalam kamar.dia langsung membuka almari pakaianku. Dia mengambil celana training pendek dan kaos. Dia menemukan kotak musik yang aku simpan. Dia tak bisa menahan tawanya. Tawanya begitu keras hingga membuat Yogi dan Sam kaget.  Dani mengambil kotak musik tersebut dan memperlihatkannya kepada Yogi dan Sam. Mereka berdua langsung ikut tertawa melihatnya.
“dasar banci.”
“ha….ha….ha…..”
“warnanya cewek banget.”
“jangan-jangan Sandy  ikut grup pinker.”
“ha….ha…..ha…..”
“lihat ni pinggirannya!”
“wah……blink-blink.”
“ha…ha…ha…..”
            Mereka terus melontarkan ejekan lalu tertawa terbahak-bahak. aku di dapur sedang membuat kopi kaget mendengar tawa mereka. Tawa mereka begitu keras sehingga aku yang dibawah mendengarnya. Selesai membuat kopi langsung aku bawa ke kamarku. Ternyata Dani lupa menutup pintu kamar sehingga suara tawa mereka terdengar sampai bawah. Aku melihat mereka tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata. Aku langsung menutup pintu kamar. Aku ambil kotak musik tersebut dari mereka.
“wooyy…,kenapa diambil?” Tanya Sam.
“biar nggak rusak, kalau dipegang kalian pasti nanti rusak.”
“dasar sipit pelit.” Ucap Yogi.
“ha….ha….ha…..” Mereka tertawa terbahak-bahak lagi.
 “tu buat sapa?” Tanya Dani.
“buat Lara.”
“tumben-tumbenan kamu kayak gitu, sok romantis.”
“ kena pelet apa?” Tanya Sam curiga.
“pelet penggoda nyai Lara.” Jawab Dani.
“ha…ha….ha….”  
“emang kamu nggak tahu gosipnya si May”
“aku nggak percaya sebelum ngelihat sendiri”
            Aku sodorkan kopi panas yang aku buat. Seketika malam ini terasa hening karena mereka sudah tidak mengejekku lagi. Mereka menikmati kopi yang aku buat. Merasakan nikotin bercampur dengan kafein menyatu didalam tubuh. Kalau sudah minum kopi dan menghisap nikotin dalam rokok mereka langsung tenang. Seperti singa yang kelaparan diberi daging. Auangnya tak terdengar lagi.
            Akhirnya mereka tertidur juga. Aku bisa menikmati alunan nada yang keluar dari kotak musik tanpa gangguan mereka. Suara yang begitu merdu dengan penerangan remang-reng dari lampu kamarku. Sedang asik-asiknya mendengarkannya handphoneku berbunyi. Ternyata dari Lara.
“iya Lara.”
“kamu gy pa San?”
“dengerin musik, tumben jam segini telpon?”
“emang kenapa?”
“kalau nggak boleh aku matiin.”
“boleh kok.”
“he…he….he…..”
“kenapa ketawa?”
“emang aku lucu?”
“kamu nggak lucu tapi aneh, masak aku bilang gitu aja kamu langsung nyolot”
“he…he…he…”
“maaf ya San”
            Setelah cukup lama aku tak bisa menahan rasa ngantukku. Rasa lelah yang telah memaksaku untuk memejamkan mata. Aku tertidur dalam kondisi masih menelpon. Lara tidak tahu kalau aku telah tertidur dia terus saja bicara tanpa ada jeda. Dia memang seorang wanita cerewet. Dia selalu punya topik untuk dibahas. Julukan bebek yang aku berikan kepadanya memang pantas ditujukan untuknya. Suaranya yang begitu merdu mengantarku untuk mimpi indah dimalam ini. 



March 18, 2012

0 comments:

Post a Comment