by : Putu Saddam
pagi yang cerah. hari ini tak seperti biasanya. Aku yang biasanya bangun kesiangan sekarang bangun pagi. Pagi ini memang menyenangkan. Aku bangun tidur, cuci muka langsung menuju meja makan untuk sarapan. Di sana sudah ada kedua orang tuaku menungguku untuk sarapan bersama. Benar-benar pagi yang menyenangkan. Mbok imah sudah menyiapkan sarapan kami. di pagi yang cerah ini aku rasakan suasana yang tak pernah aku temukan waktu aku mulai kuliah. Mereka jarang sarapan bersamaku. Kami sarapan pagi dengan penuh canda tawa. Tidak seperti biasanya. Aku sarapan sendirian. Tidak ada satu orang pun yang menemani.
pagi yang cerah. hari ini tak seperti biasanya. Aku yang biasanya bangun kesiangan sekarang bangun pagi. Pagi ini memang menyenangkan. Aku bangun tidur, cuci muka langsung menuju meja makan untuk sarapan. Di sana sudah ada kedua orang tuaku menungguku untuk sarapan bersama. Benar-benar pagi yang menyenangkan. Mbok imah sudah menyiapkan sarapan kami. di pagi yang cerah ini aku rasakan suasana yang tak pernah aku temukan waktu aku mulai kuliah. Mereka jarang sarapan bersamaku. Kami sarapan pagi dengan penuh canda tawa. Tidak seperti biasanya. Aku sarapan sendirian. Tidak ada satu orang pun yang menemani.
“tumben papa sama mama sarapan bareng aku?”
“kamu yang tumben, biasanya kamu jam segini belum bangun kenapa sekarang udah bangun?”
“emang ini jam berapa?”
“setengah tujuh.”
“apa setengah tujuh??” Aku kaget, karena baru kali ini aku bangun pagi semenjak aku kuliah.
Mereka tersenyum melihatku sambil geleng-gelengkan kepala. Aku orangnya memang pemalas. Apa lagi kalau disuruh bangun pagi. Susahnya minta ampun.
“kamu tu tidak sopan, kalau mau makan mandi dulu!.”
“aku punya slogan gini mah, bangun tidur ku terus makan.”
“emang apa untungnya?”
“untungnya tu mah, sisa makanan yang menempel di gigi bisa habis disikat waktu mandi”
“pinter ngeles kamu”
Kedua orang tuaku tersenyum mendengarkan jawabanku. Selesai sarapan mereka melanjutkan aktifikas rutinnya yaitu bekerja. Aku masuk ke kamar mandi langsung mandi. Udah lama aku tidak mandi jam segini rasanya airnya dingin sekali. Selesai mandi aku mendengarkan musik. Aku bernyanyi didalam kamar sambil berdiri didepan kaca. Sisir rambut aku jadikan microphone. Benar-benar konyol. Rasa dingin yang aku rasakan berangsur-angsur menghilang.
Untuk kuliah hari ini aku memakai baju hitam dengan celana panjang berwarna hitan seperti dandanan orang mau ke makam. Tapi bukan masalah buatku. Menurutku seperti inilah dandanan lelaki sejati. aku tak pernah menata rambut dengan berlebihan paling cuma menyisirnya saja karena rumbutku kaku dan susah diatur seperti sifatku. Suka seenaknya sendiri dan susah diatur. Aku sulut rokok agar rasa dingin tidak begitu terasa. Aku hisap setiap nikotin di dalam rokok. Setelah habis sebatang rokok. Aku pakai sepatu hitamku lalu menuju garasi. Tak lupa tas berwarna coklat yang aku taruh diatas meja aku bawa. Tas yang hanya berisi binder dan satu bolpoint warna hitan. Aku melihat sepeda motorku sudah menungguku. Aku keluarkan dari garasi. Aku hidupkan mesin motorku. Masih terlalu pagi untuk berangkat. Aku ada perkuliahan pukul Sembilan, sekarang belum ada jam delapan. Aku sulut rokok lagi untuk menghabiskan waktu. Menunggu datangnya pukul delapan.
Setelah habis dua batang rokok. Aku berangkat ke kampus dengan sepeda motorku. Tidak lupa helm dan surat kendaraan juga aku bawa agar tidak kena tilang.
Kuliahku terasa sangat lama. Sekarang aku baru semester dua. Tapi rasanya sudah sangat lama aku kuliah disitu. Aku tidak pernah berfikiran setelah lulus sekolah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku hanya ingin bermain musik. Tatapi karena desakan orang tua akhirnya aku mau melanjukan ke perguruan tinggi. Aku harusnya bersyukur karena banyak orang yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya keperguruan tinggi.
Di kampus aku tidak pernah ikut kegiatan apa pun. Menurutku hanya buang-buang waktu. Kalau ada waktu senggang aku gunakan untuk nge-band bersama teman-temanku. Mencoba membuat lagu sendiri atau pergi bersama teman-temanku. Menikmati udara segar jauh dari polusi kendaraan dan pabrik. Pemandangan yang begitu memanjakan mata. Itu adalah cara terbaik untuk menikmati waktu senggangku.
Sesampai di kampus aku parkir kendaraanku berjejeran dengan kendaran yang lain. Aku melihat Sam dengan kekasihnya Dara berjalan menuju gedung tempatku kuliah. Sam salah satu teman dekatku dia sebagai gitaris dalam band yang aku bentuk. Dia sangat mencintai Dara. Begitu juga dengan Dara. Aku tidak pernah melihat mereka bertengkar.
“woy…pagi-pagi udah pacaran?”
“nggak pa-pa yang penting kan kuliah, lihat tu Dani” Jawab Sam sambil menunjuk Dani.
“sinting…,pagi-pagi udah ngerayu cewek.”
Dia salah satu temanku sekaligus vokalis dalam band. Dia memang mempunyai modal yang cukup untuk menjadi vokalis. Suara yang bagus ditambah lagi dia sangat tampan. Dia juga pandai merayu wanita. Jadi aku tidak kaget kalau banyak wanita tergila-gila padanya. Entah sudah berapa banyak wanita yang pernah jalan dengannya.
“Yogi mana?”
“nggak tahu, aku dari tadi belum lihat”
Tak lama kemudian Yogi datang. Badan besar milik Yogi memjadikannya cocok untuk menjadi penggebuk drum. Yogi sangat marah dipanggil giant. Dulu waktu ospec pernah ada kakak senior memanggilnya dengan sebutan giant, karena badannya yang besar. kakak senior tersebut langsung dihajar Yogi. Beruntung kejadian ini tidak sampai polisi tetapi Yogi harus mengganti semua biaya pengobatannya dan minta maaf langsung kepadanya.
Kami mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, tetapi mereka bisa kompak saat berkumpul menjadi sebuah band. Pada saat bersama-sama mereka saling melempar ejekan tetapi tak ada satu pun dari kami yang marah. Karena kami tahu itu hanya sebuah hiburan.
Sudah waktunya kuliah. kami masuk kedalam kelas. Baru lima belas menit didalam kelas aku sudah merasa bosan. Aku berusaha mencari kesibukan lain. Aku mengerjai Yogi. Aku miss call handphone Yogi dengan panggilan privat number. Suara bunyi handphone Yogi langsung memenuhi ruang perkuliahan. Semua mata tertuju pada Yogi. dia sangat malu. Dia mengambil handphonenya. Dia silent handphonenya sambil lirik kanan-kiri memantau siapa tadi yangmengerjainya. Aku pura-pura tidak tahu yang terjadi.
Setelah kuliah selesai. Kami berjalan menuju kantin. Di kantin aku menanyakan hal tadi kepada Yogi
“Yog, kalau misalnya kamu tahu siapa yang tadi miss call kamu, apa yang kamu lakuin?”
“aku hajar dia sampai dia mau minta maaf.”
“kalau temen kamu sendiri gimana?”
“tetep aku hajar.”
“aku tahu siapa yang miss call kamu tadi.” Ucap Dani.
“siapa Dan?”
“Sandy”
Yogi langsung menatapku dengan pandangan marah dan sebuah pukulan telak tepat mengenai wajahku. Rasa nyeri di wajahku langsung datang.
“sorry Yog aku kan cuma bercanda”
“nggak pa-pa, ini untuk balasan yang tadi”
“ha…ha…ha….”
Mereka menertawakanku. Aku ikut tertawa tetapi rasa nyeri ini belum mau hilang. Aku kesakitan sendiri. Aku tertawa sambil memegang pipiku yang sakit karena menerima pukulan dari Yogi. sungguh pagi yang hangat.





0 comments:
Post a Comment