Saat aku terbangun dari tidurku, aku masih belum bisa percaya sosok gadis anggun dengan senyum manis, kini telah tiada untuk selamanya. Bagiku ‘DIA’ pergi begitu cepat, aku bangun dan duduk termangu ditempat tidurku sambil mengingat kenangan indah bersamanya, dimulai saat kami berkenalan, dimana saat itu aku sedang wisata bersama keluarga dikota Y, tepatnya di jalan Malioboro aku melihat banyak pedagang yang sedang menjajakan barang daganganya, dan tiba-tiba “buuk” tanpa disengaja ada seorang gadis jelita berjilbab yang menubrukku, hal yang wajar sebenarnya jika terjadi ditempat ramai seperti itu, namun ia berkata dengan suara pelan ‘maaf mas saya tidak sengaja’, aku hanya membalas dengan senyuman saat itu, kemudian aku terus berjalan melihat-lhat, sampai ditoko souvenir tanpa diduga, aku bertemu dengan dia kembali bersama Ayah dan kedua adiknya yang masih kecil, aku kembali tersenyum dan kemudian menghampirinya, kuajak ngobrol ringan, lalu saat aku ingin berjabat tangan untuk berkenalan, ia tersenyum kecil ‘Effika’(tanpa berjabat tangan), nama yang cantik sama seperti orangnya kataku, ia hanya tersenyum simpul, melihat Ayahnya kerepotan mengurusi dua adiknya, ‘permisi sebentar mas, lalu ia menghampiri adiknya, tak terlihat sosok ibu dikeluarga mereka. kulihat sekilas ia memang ‘kaku’ dibanding gadis-gadis jaman sekarang, ia lebih mementingkan agama daripada trend masa kini, walau begitu ia tetap terlihat cantik dengan busana muslimnya, waktu pun berlalu, sampai akhirnya kami bertemu lagi di rumah makan, aku langsung mengajak keluargaku duduk disebelahnya, kami pun mengobrol banyak hal bersama-sama, ternyata tempat tinggal keluarga fika satu perjuangan ayahnya yang sendirian membesarkan ketiga anaknya, seiring waktu berjalan, aku semakin dekat dengan fika, pernah aku menyatakan cinta kepadanya tetapi dia menolak ketika aku mengajak berpacaran namun ia akan menerima jika aku bersedia melamarnya, sungguh kebahagiaan tiada tara yang ku rasakan aku sangat bersyukur kepada Tuhan, sampai akhirnya kebahagiaan itu sirna, ketika aku menerima kabar bahwa Rumah fika dirampok, bukan hanya harta yang hilang tetapi nyawa fika pun ikut melayang, perasaan amarah, sedih bercampur aduk namun aku hanya bisa pasrah mendengar kabar itu, dengan sekuat tenaga aku melayat kerumah fika, sampai disana tubuhku lemas melihat tubuh fika yang slama ini menjadi mimpi-mimpi indahku terbujur kaku dibalut kain putih, aku berjalan mendekati ‘gadis yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidup, penyemangat, menjadi ibu dari anak-anaku, yang kini hanya jadi mimpi…..mimpi yang terbunuh
Saat aku terbangun dari tidurku, aku masih belum bisa percaya sosok gadis anggun dengan senyum manis, kini telah tiada untuk selamanya. Bagiku ‘DIA’ pergi begitu cepat, aku bangun dan duduk termangu ditempat tidurku sambil mengingat kenangan indah bersamanya, dimulai saat kami berkenalan, dimana saat itu aku sedang wisata bersama keluarga dikota Y, tepatnya di jalan Malioboro aku melihat banyak pedagang yang sedang menjajakan barang daganganya, dan tiba-tiba “buuk” tanpa disengaja ada seorang gadis jelita berjilbab yang menubrukku, hal yang wajar sebenarnya jika terjadi ditempat ramai seperti itu, namun ia berkata dengan suara pelan ‘maaf mas saya tidak sengaja’, aku hanya membalas dengan senyuman saat itu, kemudian aku terus berjalan melihat-lhat, sampai ditoko souvenir tanpa diduga, aku bertemu dengan dia kembali bersama Ayah dan kedua adiknya yang masih kecil, aku kembali tersenyum dan kemudian menghampirinya, kuajak ngobrol ringan, lalu saat aku ingin berjabat tangan untuk berkenalan, ia tersenyum kecil ‘Effika’(tanpa berjabat tangan), nama yang cantik sama seperti orangnya kataku, ia hanya tersenyum simpul, melihat Ayahnya kerepotan mengurusi dua adiknya,
‘permisi sebentar mas, lalu ia menghampiri adiknya, tak terlihat sosok ibu dikeluarga mereka. kulihat sekilas ia memang ‘kaku’ dibanding gadis-gadis jaman sekarang, ia lebih mementingkan agama daripada trend masa kini, walau begitu ia tetap terlihat cantik dengan busana muslimnya, waktu pun berlalu, sampai akhirnya kami bertemu lagi di rumah makan, aku langsung mengajak keluargaku duduk disebelahnya, kami pun mengobrol banyak hal bersama-sama, ternyata tempat tinggal keluarga fika satu perjuangan ayahnya yang sendirian membesarkan ketiga anaknya, seiring waktu berjalan, aku semakin dekat dengan fika, pernah aku menyatakan cinta kepadanya tetapi dia menolak ketika aku mengajak berpacaran namun ia akan menerima jika aku bersedia melamarnya, sungguh kebahagiaan tiada tara yang ku rasakan aku sangat bersyukur kepada Tuhan, sampai akhirnya kebahagiaan itu sirna, ketika aku menerima kabar bahwa Rumah fika dirampok, bukan hanya harta yang hilang tetapi nyawa fika pun ikut melayang, perasaan amarah, sedih bercampur aduk namun aku hanya bisa pasrah mendengar kabar itu, dengan sekuat tenaga aku melayat kerumah fika, sampai disana tubuhku lemas melihat tubuh fika yang slama ini menjadi mimpi-mimpi indahku terbujur kaku dibalut kain putih, aku berjalan mendekati ‘gadis yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidup, penyemangat, menjadi ibu dari anak-anaku, yang kini hanya jadi mimpi…..mimpi yang terbunuh
putu saddam
April 26, 2012
CB Blogger
Indonesia





0 comments:
Post a Comment