Apakah anak anda deman, trobosit menurut, dan suhu badan naik turun? Percayalah itu belum tentu DBD (demam berdarah dengue).
Setelah demam reda timbul bercak merah di beberapa bagian tubuh dan wajah? Percayalah itu juga belum tentu campak atau tampak, atau tampek, atau apalah sebutan lainnya untuk penyakit akibat inveksi virus rubella.
Saya bukan orang yang mengerti soal medis, saya hanya seorang ibu yang kebetulan punya pengalaman berkenalan dengan Roseola. Jadi mungkin yang akan saya bahas nanti hanya sebatas pengetahuan saya sebagai orang awam saja.
Dua minggu lalu Cj putra sulung saya batuk pilek. Badannya menggigil, suhu badannya meningkat drastis. Saya tidak panik, karena DSA (dokter spesialis anak) langganan selalu mengingatkan untuk tetap tenang ketika anak sakit. Cj kuberi obat penurun panas, dan banyak minum air putih. Suhu badannya pun berangsur turun.
Keesokan harinya, suhu badan Cj kembali mencuat naik, bahkan sampai ke angka 40.2°C. Saya kembali memberikan obat penurun panas. Dengan catatan apabila suhunya kembali naik, saya akan membawa Cj ke rumah sakit.
Saya sempat menghubungi lewat telepon dokter Idham Amir, yang merupakan DSA langganan kami ketika anak-anak sakit. Beliau mengatakan hal yang sama, beliau menganjurkan untuk membawa Cj ke RS (rumah sakit) apabila sampai malam masih demam.
Jam delapan malam, Cj kembali demam. Kami bergegas membawanya ke RS. Sesampainya di sana Cj diperiksa dan diminta untuk melakukan tes darah di laboratorium.
Hasilnya langsung dibacakan oleh dokter Idham. "Trombosit turun, Leukosit naik, Typus negatif, bisa jadi ada inveksi virus, atau DBD," ujar dokter. "Tapi, kalau DBD biasanya jumlah yang turun tidak akan sedikit, saya lebih meyakini kalau ini virus," sambungnya. Kami pun akhirnya pulang ke rumah.
Kami dibekali beberapa obat oleh dokter, antara lain obat penurun panas dan anti virus. Hanya dua obat? Ya, bahkan tak jarang kami pulang dengan tangan kosong, hanya membawa oleh-oleh nasehat dari dokter. Dokter Idham ini memang terkenal sebagai dokter yang 'pelit obat'.
Keesokan harinya Cj mulai terlihat sedikit ceria, demamnya sudah reda, Cj bahkan sudah mau makan. Namun di balik itu, muncul lah perkara baru. Tiba-tiba timbul bercak-bercak merah di tubuh Cj. Awalnya hanya di dada, namun kemudian semakin banyak dan memenuhi hampir di seluruh bagian tubuhnya.
Dokter Idham kembali ku hubungi, beliau mengatakan bahwa kecurigaannya semalam ternyata benar. Cj bukan DBD, atau campak, ataupun typus, akan tetapi terinveksi virus yang bernama roseola. Sedikit lega, karena menurut dokter Idham kami sudah menanganinya dengan cepat. Menurutnya kami juga tidak perlu lagi ke RS. Cj tinggal melanjutkan pengobatan dengan obat anti virus yang malam itu kami tebus.
Beberapa hari kemudian Cj pulih. Cj kembali riang dan kami pun senang. Walau setelah itu, beberapa hari berselang si bungsu ikut tertular si virus bernama cantik, Roseola.
Sekilas tentang Virus Roseola (Artikel ini dikutip dari beberapa sumber).
Roseola atau dalam istilah medis lainnya disebut roseola infantum, merupakan infeksi virus yang menyerang bayi atau anak-anak dengan gejala utama berupa demam dan ruam merah muda di kulit.
Gejala roseola biasanya muncul setelah virus berinkubasi di dalam tubuh selama 1 minggu. Pada tahap awal, bayi atau anak-anak yang terkena roseola akan mengalami demam tinggi, batuk pilek, nyeri tenggorokan, dan tidak nafsu makan, jumlah trombosit cenderung turun dan leukosit naik. Selain gejala-gejala tersebut, sebagian penderita juga akan mengalami pembengkakan kelenjar di leher, diare ringan, dan pembengkakan pada kelopak mata.
Setelah tiga hari demam biasanya mereda diikuti dengan munculnya ruam berwarna merah muda yang akan memenuhi bagian wajah, punggung, perut, dan dada. Ruam-ruam yang tidak terasa gatal atau sakit. Dalam waktu dua hari biasanya ruam akan berangsur-angsur menghilang.
Roseola disebabkan oleh virus HHV-6 atau virus herpes tipe 6. Penularan virus ini seperti kasus-kasus pilek pada umumnya, yaitu ketika anak terpapar bersin dan batuk oleh penderita roseola yang sedang berada di dekatnya. Atau bisa juga ketika anak memegang benda yang telah terkontaminasi virus roseola, misalnya piring, gelas, dan sendok.
Roseola biasanya sembuh dalam waktu satu minggu dari munculnya demam. Sebenarnya cukup melalui perawatan di rumah. Namun apabila anak mengalami demam lebih dari 39°C, ruam di kulitnya masih belum hilang setelah tiga hari, atau kejang, segera periksakan ke dokter.
Saat anak mulai demam, pastikan dia beristirahat total sampai kondisinya pulih. Jagalah suhu kamar agar tetap sejuk. Berikan anak minum sesering mungkin agar demam cepat reda dan terhindar dari dehidrasi. Jika perlu berikan anti virus (dengan resep dokter).
Hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah roseola karena itu langkah terbaik untuk mencegah penularannya adalah menjauhkan anak dari penderita. Begitu pula sebaliknya.





0 comments:
Post a Comment